Danau Batur terbentuk sebagai kaldera atau kawah dari gunung Batur
yang meletus dahsyat ribuan tahun lalu. Daerah sekitarnya merupakan
daerah pertanian yang asri dan sejuk. Air danau sangat mendukung
perairan untuk pertanian dan persawahan di daerah tersebut. Sebagai
daerah yang subur, banyak dijumpai pemukiman penduduk dan desa di
sekitarnya. Tempat ini dijadikan sebagai salah satu unggulan dalam wisata Bali.
Fenomena perubahan warna air danau
pernah terjadi di danau Batur. Pada tahun 2007, warna air berubah dari
biru atau bening menjadi cokelat atau hijau. Sedangkan pada tahun 2008,
warna air menjadi berbuih putih. Penyebabnya masih diselidiki, bisa
karena tercemar zat beracun dari gunung Batur atau karena tumbuhnya
tanaman air di dasar danau. Selain fenomena tersebut, danau Batur juga
sarat akan sejarah dan mitologi. Kabarnya danau Batur terbentuk dari
seseorang bernama Wirabuana yang terlibat dalam perkelahian dengan
Demang Lindungan. Wirabuana akhirnya menancapkan tombaknya dan setelah
mencabutnya, banyak air dari dalam bumi keluar dan membentuk sebuah
danau. Wirabuana akhirnya berhasil menang dan sekaligus mendapatkan cinta sejatinya.
Danau Batur berbentuk menyerupai bulan
sabit dengan warna biru pada kondisi normalnya. Suhu di sekitarnya sejuk
pada siang hari dan terasa dingin di malam hari ini. Suhu danau sekitar
23 derajat Celcius. Hal ini berbeda dengan wisata Bali lainnya seperti
pantai yang cenderung berhawa panas. Oleh sebab itu, bagi wisatawan yang
ingin suasana berbeda yakni cuaca dingin sangat dianjurkan untuk
mengunjungi danau Batur di Kintamani
ini. Kesejukan di danau Batur terjadi karena termasuk daerah pegunungan
dengan ketinggian sekitar satu kilometer di atas permukaan laut.
Ditambah dengan pemandangan yang spektakuler berhiaskan gunung dan danau
di kaki gunung tersebut.
Fasilitas di kawasan wisata Bali ini cukup memadai. Berbagai hotel
murah hingga bintang, restoran dan cafe banyak di kawasan Bangli Bali
ini. Wisatawan bisa juga mengelilingi dan menjelajahi danau Batur dengan
menggunakan sepeda atau berjalan kaki sambil menikmati keindahan alam.
Namun banyak juga wisatawan yang tidak turun ke danau namun hanya
melihat pemandangannya dari pinggir jalan raya Bangli-Singaraja. Di
sekitar jalan tersebut banyak terdapat tempat makan atau warung yang
menawarkan makanan sekaligus sambil menikmati pemandangan alam yang
menawan.
